Ikhlas dalam Beramal
- Thursday, August 19, 2010, 12:57
- kolom Al Ustadz
- 2,000 views
- 5 comments
Dalam dunia yang serba sekuler ini, banyak manusia terjebak menilai kualitas amal dengan return yang diperoleh yang berupa materi. Keberhasilan seseorang dinilai dengan banyaknya harta dunia yang dikumpulkan. Mereka tidak menyadari bahwa diri mereka telah terjebak ke dalam faham materialism. Manusia menjadi budak harta, melupakan jati dirinya sebagai hamba Allah. Padahal hanya orang yang beramal ikhlas karena Allah saja yang akan mendapat balasan kebaikan dari Allah.
Firman Allah dalam surat Al Bayyinah: “Wa maa umiruu illa liya’budullaaha mukhlishiina lahuddiin hunafaa-a.” (Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan kethaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.)
Kata ikhlas adalah lawan kata isyrak. Seseorang yang tidak bisa menjaga keikhlasannya dalam beramal, maka dia sudah terjatuh ke dalam syirik. Padahal amal syirik menghapuskan seluruh pahala amal shaleh [QS Az Zumar 39:65]. Untuk itu menjadi sangat urgen bagi semua orang Islam untuk senantiasa beramal ikhlas dan menjaga agar pahalanya tidak batal [QS Muhammad 47: 33]
Orang yang beramal ikhlas akan kelihatan dari kesungguhan (mujahadah) dan istiqamah nya dalam beramal. Ketika dia bersedekah, dia akan memberikan sesuatu yang baik kepada saudaranya, bahkan yang terbaik. Rasulullah saw mengingatkan bahwa seseorang tidak dikatakan beriman sebelum mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri. Disamping itu dia akan terus memberi dan tidak akan bosan memberi.
Untuk memperoleh derajat ikhlas kita harus mendasari semua amal dengan ilmu, karena Allah melarang beramal tanpa ilmu [QS Al Isra' 17: 36]. Lalu kita tata niat hanya untuk mendapatkan mardlaatillaah. Rasululalh saw menjelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.
Kemudian amal tersebut kita laksanakan sesuai dengan manhaj Rasulullah saw. Allah memerintahkan kita untuk thaat mengikuti Rasulullah saw [QS Ali Imran 3: 31]. Sedang orang yang thaat kepada Allah dan Rasul-Nya akan memperoleh kemenangan yang besar [QS Al Ahzab 33: 71] dan kemenangan yang besar itu di akhirat berupa surga yang kekal penuh dengan keni’matan [QS An Nisa' 4:14].
Maka wajar kalau para sahabat senantiasa bersungguh-sungguh dalam beramal. Dalam tarikh Khulafaaur-Raasyidiin dikisahkan bahwa untuk membiayai pasukan Jaisyul-usrah Utsman bin Affan pernah bersedekah 10 ribu dinar atau setara dengan 40 kg emas. Sepanjang hidup para sahabat seperti Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Abu Bakar As Siddiq senantiasa istiqamah dengan kedermawanan mereka.
Saudaraku, karena kalau tidak ikhlas berarti syirik, maka mari kita lebih bermujahadah dan beristiqanah dalam beramal. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk beramal ikhlas karena Allah semata, aamiin.
Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Ketua Umum Majlis Tafsir Al Qur’an (MTA)
Di Harian SOLOPOS, HIkmah 13-08-2010
About the Author
5 Comments on “Ikhlas dalam Beramal”
Write a Comments
Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!











apa yang disampai Al Ustad bagus tinggal kt cari orang yang ikhlas bisa dihitung dari jari MTA dari cabang Yogyakarta Kasihan
‘sedikit tapi ikhlas’ adalah kata2 yang melemahkan dalam kita beramal.
“nek iso yo sing akeh tur ikhlas”
saya sangat setuju bahwa amal itu tergantung pada niatnya, tapi dengan cara bagaimanakah kita bisa mengetahui derajat keikhlasan orang tersebut beramal….apakah cukup dengan ucapan yang penting saya ihlas tapi mengabaikan benar dan salahnya amalan tersebut pak Ustad..karena di masyarakat masih sering saya jumpai ucapan tersebut kalau ditanya…sukron semoga Allah selalu menjaga amal-amal kita agar tetap dlm keikhlasan.
Orang yang tidak ihklas dalam beramal / sedekah sebagaimana digambarkan dalam QS 2 : 264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir[168].
Beramal merupakan bagian dari kesempurnaan iman, dan justru orang imannya dianggap belum benar sebelum memenuhi ketentutan QS 2 : 177Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Beramal, ibaratnya tangan kanan memberi dan tangan kiri tak boleh tahu. Tetapi apa yang terjadi disekeliling kita terutama yang dilakukan oleh orang – orang berpunya, artis – artis kondang dan petinggi negeri ini dalam beramal, seringkali mereka minta diliput dan ditayangkan di media massa dan kenapa tidak mereka salurkan ke lembaga amal saja. Apakah ini merupakan pamer kaum berduit agar disebut sebagai dermawan? Kita saksikan banyak kaum fakir yang tua renta dan anak – anak yang terinjak-injak dan bahkan meregang nyawa untuk mendapatkan pemberiannya. Hati kita menjadi sedih, trenyuh, teriris – iris dan timbul pertanyaan didalam sanubari sudah sedemikian parahkah kemiskinan melanda negeri tercinta ini ? Untuk itu marilah kita bergandeng tangan dan bersatu padu memerangi kemiskinan di negeri tercinta ini dengan menyisihkan rezeki untuk beramal dengan ikhlas. Semoga Allah Swt memberkahi kita, amin.