Memahami Al-Qur’an
- Tuesday, September 8, 2009, 9:54
- kolom Al Ustadz
- 2,424 views
- 11 comments
Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa beliau telah meninggalkan 2 perkara yang apabila manusia berpegang teguh kepada keduanya mereka tidak akan tersesat selamanya. Kedua perkara itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka menjadi sangat penting bagi orang Islam untuk memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketertinggalan ummat Islam dari ummat lain dalam berbagai bidang kehidupan bukan karena kehebatan ummat lain, tetapi karena ummat Islam tidak memahami ajaran agamanya sendiri.
Mereka hidup terombang-ambing oleh keinginan hawa nafsunya, tidak memiliki pegangan yang kuat. Sebagian karena tidak memahami Al-Qur’an dan sebagian lain karena tidak mentaati Al-Qur’an. Menurut Imam Ibnul-Qayyim Al-Jauziy kelompok pertama tidak memperoleh hidayah ilmu, sedang kelompok kedua meski telah memperoleh hidayah ilmu tetapi tidak memperoleh hidayah amal.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Allah akan memberinya kefahaman dalam agamanya. Faham terhadap agamanya berarti memahami Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang merupakan warisan yang sangat berharga bagi ummat manusia yang mau memahami dan mengimaninya.
Bagi kita ummat Islam harus mengimani sepenuh hati, tanpa ragu, bahwa hanya dengan Al-Qur’an manusia secara pribadi maupun secara keseluruhan bisa menjadi baik dan selamat dalam hidupnya di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Imam Malik mengatakan, “Tidak akan dapat memperbaiki (keadaan) ummat akhir ini melainkan dengan apa yang pernah memperbaiki (keadaan) ummat pertamanya”. Rasulullah SAW memerintahkan, “Beredarlah kalian mengikuti Al-Qur’an ke mana saja dia beredar [HR. Hakim].
Dan sabdanya yang lain, “Barangsiapa menjadikan Al-Qur’an itu di depannya (untuk diikuti) maka akan membawanya ke surga, dan barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an itu di belakangnya (mengikuti hawa nafsunya), maka akan memasukkan ke dalam neraka. [HR. Ibnu Majah]
Dari situ jelaslah bahwa manusia sejak dahulu sampai sekarang ini tidak akan bisa menjadi baik tanpa memahami dan mengikuti Al-Qur’an.
Lebih tegas lagi Allah SWT menjelaskan, “Ini adalah sebuah kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan, penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. [QS. Shaad : 29].
Dan juga firman Allah SWT yang artinya, “Dan (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. [QS. Al-An'aam : 153]
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Qur’an, sedang dia dibacakan kepada mereka ? Sesungguhnya dalam Al-Qur’an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. [QS. Al-'Ankabuut : 51]
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah, itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu (Al-Qur’an). Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Da barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. [QS. Az-Zumar : 23]
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab (Al-Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridlaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan Al-Qur’an itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. [QS. Al-Maaidah : 15-16]
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, mereka itu pasti akan celaka, dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. [QS. Fushshilat : 41-42]
Dari beberapa ayat Al-Qur’an tersebut memberi pengertian kepada kita serta meyaqinkan bahwa manusia menjadi selamat karena mengimani dan memahami serta mengamalkan Al-Qur’an. Dan manusia menjadi sesat juga karenanya tidak memahami dan tidak mengimani Al-Qur’an. Dengan demikian sangat penting memahami Al-Qur’an bagi siapasaja yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat kelak, bagi ummat Islam fardlu ‘ain memahami Al-Qur’an, agar dapat menjadi orang Islam yang benar-benar tingkah lakunya sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an yang merupakan sumbernya ajaran Islam. Semoga bermanfat bagi kita semua, aamiin.
Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
“Hikmah Ramadhan” Harian Solopos, 06 Sept 2009
About the Author
11 Comments on “Memahami Al-Qur’an”
Write a Comments
Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!











alqur’an&assunah mrp kitab Undang2 bagi seluruh alam, yg didlmnya termaktub segala urusan, bimbingan,petunjuk jalan yg LURUS atas rahmat-Nya…bagi kita syukur alhamdulillah bisa menemuinya zaman dimana Al Quran & As Sunnah mulai dihidupkan kembali..mari kita mempelajari, memahami, mengamalkan dlm ruang hidup kita…kita mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat sampai dunia ini berjalan seiring waktu…
Alhamdulillah….Memang idialnya setiap ibu yang melahirkan anaknya sudah siap dengan amalan-amalan Qur’ani di dalam dirinya, ……….yang siap untuk diresapkan dan diteruskan kepada anak-anaknya, ……….sehingga estafet kebahagiaan akan terus tersambung dari generasi ke genarasi, segala puji bagi Allah, ………dinamika umat naik turun sesuai dengan dinamika kwalitas moralnya …….(kwalitas pemahaman dan pengamalan Al-Qur’an dan Sunnah),……… semoga Allah meneguhkan kita dalam kefahaman ilmu dan amal Al-Qur’an dan As-Sunnah…. Aamien, ……..maturnuwun sedayanipun…..
jaman sekarang banyak ilmu yang canggih-canggih, …termasuk kaum ibu banyak yang menguasai ilmu yang canggih-canggih, ….namun banyak para ibu yang melupakan ilmu yang alamiyah dan ilmiyah, yaitu ilmu tentang menanamkan islam dan kehalusan budi pekerti dalam kehidupan keseharian anak-anak. Telah banyak ibu-ibu yang ber-emansipasi dan karya-karyanya telah sama dan bahkan lebih canggih dari kaum bapak-bapak, tapi banyak yang gagal menanamkan jiwa islami dan kehalusan budi pekerti dalam diri dan anak-anaknya…… dosa siapa …ini dosa siapa…. salah siapa… ini salah siapa ????? tanyakan saja pada rumput yang bergoyang… dudu dudu… dudu dudu… dudu dudu…. … perjalanan ini…….zaman ini……diluar sana…..
alqur’an adalah bacaan yang sangat indah..mampu menggetarkan relung hati..tentu kalau hati kita salim.
alqur’an adalah bacaan yang sangat indah..mampu menggetarkan relung hati..tentu kalau hati kita salim…sehingga pesona keindahan alqur’an terlihat dlm kehidupan.
subhanallah….memang idealnya spt itu ustadz…
istiqomah dalam menuntut ilmu adalah modal utama agar kita benar-benar bisa memahami Al Qur’an … semoga Allah meridloi.
bersabar dalam kesucian akidah adalah sesuatu yang sulit…namun jangan sampai kita menjadi org2 yang cengeng dan org-org yang kalah sebelum bertempur, yaitu org yang pesimis dengan tidak yakin kita mengatakan apa bisa ya kita begini dan begitu..???namun katakanlah bahwa diri kita bahwa kita adalah org-org yang mampu dan bisa melaksanakannya, bismillah..
Bismillah.
Maaf kalau comment ini tidak sesuai dengan pendapat orang banyak.
Mengamati perkembangan sejarah ummat Islam di dunia dan Indonesia kesan saya ummat Islam ini dipersatukan oleh Al-Quran tetapi dipecah-pecah oleh Hadits/ As-Sunnah.
Barangkali semboyan “Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah” sebaiknya diubah menjadi “Kembali kepada Al-Quran, Al-Quran, Al-Quran dan kemudian As-Sunnah”
Kepada Allah saya beriman dan kepada-Nya saya berserah diri.
Pertanyaan mendasar yang selama ini ada dibenak saya adalah… kita umat mayoritas muslim terbanyak di dunia, pasti banyak orang yang bahkan hafal dan faham Alqur’an dan Sunnah.. tetapi mengapai kesalehan sosial tidak begitu nampak? kenapa mereka lebih mementingkan saleh individual? padahal kalo ada keseimbangan keduanya, itu merupakan kekuatan kita.. jd.. faham belum cukup tapi akan lebih baik lagi pada tingkatan implementasinya.