Berani ! Meninggalkan Kesesatan Nenek Moyang
- Monday, August 10, 2009, 5:58
- Berita, Jihad Pagi
- 2,186 views
- 11 comments
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (TQS. Al Baqarah:170).
Menyenangkan dan sarat dengan ilmu ketika mendengarkan tanya jawab di Kajian Ahad Pagi 9/8/2009. Beraneka topik sehari-sehari insyaAllah ditemukan solusi dan jawabannya dari beliau Al Ustadz Ahmad sukina. Salah satunya adalah ‘Berani Meninggalkan Kesesatan Nenek Moyang’.
Seperti yang sudah sering diungkapkan bahwa wong ngaji harus berbeda dengan yang tidak ngaji. Karena sudah jelas bahwa yang mengetahui harus berbeda dengan yang tidak tahu (atau ‘tidak mau tahu’). Jika ternyata sama saja, maka dipastikan dia tidak menerapkan hasil kajinya. Atau ragu-ragu dalam beramal.
Selain sikap ‘berbeda’ maka satu lagi adalah harus ‘BERANI‘.
Hal yang sering terjadi dalam interaksi dengan masyarakat adalah bagaimana bersikap terhadap budaya atau amalan-amalan yang dilakukan orang-orang terdahulu (nenek moyang). Padahal telah jelas difirmankan Allah SWT dalam ayat diatas dan dibawah ini :
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (TQS. Al Maidah5:104).
Keberanian dalam meninggalkan budaya, perilaku atau amalan yang tidak sesuai sunnah adalah salah satu resiko orang yang telah mengaji. Bersiaplah! menghadapi cemoohan, halangan dan tantangan dari masyarakat yang tidak mau mengerti. Bahkan dari keluarga atau orangtua kita sendiri.
Sebagai seorang yang mengaku beriman harus benar-benar yakin akan janji dan pertolongan Allah SWT.
” Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. ” (TQS. Al Hujurat : 15)
Karena dengan yakin itulah Allah SWT akan memberikan kelapangan menuju Syurga-Nya. InsyaAllah.
About the Author
11 Comments on “Berani ! Meninggalkan Kesesatan Nenek Moyang”
Write a Comments
Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!












setuju Ustadz!..selain brani beda tapi harus brani menasehati
..bukan malah langsung ngalah-ngalih-ngilang
jaman ini menganggap tontonnan sebagai tuntunan, sedang yg haq dipandang acuh, kita hrs masuk dlm lingkaran yg disabdakan Nabi SAW yg intinya “berbahagialah golongan yg dianggap asing krn melaksanakan Al Qur’an & As Sunnah yg LURUS” yg dijamin Nabi akan keridhaan-Nya…satukan barisan kita…saling silaturrahmi antar kita…
Setuju pak Ustad, tapi kalau kita mau meluruskan kayu bengkok harus pelan-pelan agar tidak patah itu , terjadi dikampung saya, kita tidak boleh langsung menolak mentah2 tapi masyarakat kita kasih tahu pelan-pelan agar mengerti,syukur bisa diajak ngaji, agar tahu hukumnya. sehingga kebiasaan nenek moyang yang syirik contohnya sesajen,bkar menyan dsb. bisa dihilangkan dengan menyadarkan masyarakat kalau langsung ditolak mentah2 mereka akan memusuhi kita bahkan akan menghakimi kita sehingga dakwah kita,bisa tersendat seperti contoh keteladanan Rosullulloh SAW sabar tlaten tapi pasti & sukses, amin
Amin pak ustad, tp di semarang, beberapa hari ini mta fm nya tidak terdengar, sy cari di sekitar rumah pemancarnya tidak ketemu, Tlg pak ustad , spy saya dan keluarga selalu mendengar ayat ayat qur”an di bacakan. matur nuwun pak ustad.
SIAPA TAKUT???masukilah islam dg kafah..selain berani tampil beda..rapatkan barisan dlm berjamaah dan berakhlak karimah dalam komunitas yang indah..sehingga sasaran dakwah tercapai.
Ya Allah. Seandainya kedua orangtua kami masih hidup, akan cepat2 kami sampaikan berita baik ini. Yang kami bisa hanya berdo’a, ya Allah. Ampunilah dosaku dan dosa bapak ibuku karena mereka menyayangi ak diwaktu kecilku.
Banyak saudara kita yang mengikuti, Pokoke mengikuti nenek moyangku, lebih-lebih pokoke ngikuti ustadz saya. Masak sudah ustadz kok salah. Itulah ungkapan saudara-saudara kita disekitar kita. Kita harus berani menyampaikan, berani tampil beda, berani menjadi teladan bagi diri sendiri, bagi anak-anak kita, bagi istri, bagi sahabat kita dan handai taulan kita. Ditengah masyarakat yang penuh fitnah ini, kita harus berani berdakwah, menyampaikan meluruskan dan memberikan contoh sesuai al Qur’an dan sunah. Istiqomah mengaji, selalu belajar dan selalu berdakwah. Insya Allah kita akan berani beramal soleh dimana saja.
Assalamu’alaikum..
Subhanallah MTA luarbiasa selalu menginspirasi menjadi perilaku muslim sejati. Dakwah melalui teknologi sangat penting, sebagai contoh untuk membuka wacana dan pola pikir bahwa kalau hanya mengikuti “NENEK MOYANG” dalam hal apapun (terlebih masalah syariah) maka……perbudakan baik fisik dan pikiran akan terjadi di mana-mana. Dukungan Online selalu di perlukan untuk menambah ilmu-ilmu.
Wassalam..
Subhanallah..Memang sepertinya begitu.Kalo bicara nenek moyang,apakah termasuk para wali,yang dulu menyebarkan Islam di Jawa ini?Maaf,wong Jawa nggone rasa,agama yo dikatutke neng budaya.Dengan susah payah para wali menyebarkan islam disini,termasuk dengan cara tahlil dan sebagainya.Kalo saya menganggap tahlil dan sebagainya itu berkumpul menikmati rizqi Allah Swt sambil mengucapkan kebesaran Allah.Dan saya rasa itu baik saja,daripada berkumpul menyatakan ini salah,itu salah dan ngrasani sana sini.Maaf,saya masih dangkal,tapi saya cuma ingin Islam yang fleksibel,tidak meninggalkan sejarah,tapi juga tidak ketinggalan jaman.Benar dan tidaknya,wallahualam..Terima kasih.
mungkin dintara yg menjadi kebiasaan adat istiadat nenek moyang antara lain; acara bersih desa / rasulan, larung ageng ke laut, kembar mayang untuk pernikahan, mengubur hewan/ kepala hewan di suatu tempat, sesaji-sesaji akan memulai suatu hajat ( bercocok tanam / bikin /pindah / penempatan rumah, punya hajat; menikah, dll, membakar batu bata, memasukkan kaki ke tungku dapur setiap menjenguk bayi baru lahir, mengolesi jidat dengan sesuatu….) masih buanyyak sekali, yg kesemuanya minta agar selamat………….