Persepsi Tanda Kesuksesan
- Wednesday, July 22, 2009, 8:12
- Tausiyah
- 1,830 views
- 11 comments
Banyak orang merasa tidak sukses. Ia bilang keadaannya tidak memungkinkan untuk sukses. Ia hanyalah seorang yang tidak berpendidikan, ia tidak punya harta yang banyak alias modal yang cukup, ia bukan anak orang kaya atau terhormat, ia tidak cantik/tampan, dan kondisipun tidak memungkinkan ia menjadi orang yang berakhlaq mulia ataupun berhasil. Seakan-akan ia adalah korban kehidupan yang amat kejam. Apakah Allah tidak Adil? Padahal siapakah yang menyangsikan bahwa Allah adalah dzat yang Maha Adil, tidak ada yang lebih adil dibanding Allah SWT.
Ketika seseorang ditanya tentang parameter kesuksesan, sering kita temui banyak sekali jawaban. Mulai dari jika ia sudah bisa meraih impiannya, ada yang jika ia dekat dengan tuhannya, atau yang penting bisa bermasyarakat alias bersosialisasi dengan baik, ada juga yang jika ia bisa bermanfaat untuk orang lain. Akan tetapi biasanya pendapat yang paling banyak adalah pendapat pertama. Dan ada kemungkinan juga jawaban-jawaban diplomatis lain yang kadang hany a sekedar teori tanpa pemahaman. Nah, sebenarnya sukses itu yang seperti apa sich?
Berkaca dari Rasulullah SAW suri tauladan kita, manusia paling sempurna di alam ini, kekasih Allah SWT, beliau adalah seorang yang amat low profile, sederhana, dan zuhud, meski beliau sebenarnya kaya. Tidak sedikit kita temui riwayat tentang pribadi beliau yang mulia ini. Tidur beralaskan tikar yang kasar, hingga sahabat tercintanya sampai mencucurkan air mata melihat keadaan beliau yang teramat bersahaja. Beliau yang untuk menghilangkan lapar sampai mengganjal perutnya dengan batu, beliau yang menjahit bajunya sendiri, seringkali beliau berpuasa karena tdak ada makanan di rumahnya, istri-istrinya hidup dengan amat sederhana, bahkan putri tercintanya Fatimah Az Zahra hidup jauh dari kemewahan dunia. Akan tetapi putrinya bisa menjadi wanita paling mulia sepanjang masa, penghulu surga dari kaum wanita, Rasulullah begitu bangga padanya, julukan indah “Ummu Abiha”, ibu bagi ayahnya karena kasih sayangnya pada Rasulullah. Putrinya adalah pendidik yang handal dalam rumah tangga, melahirkan pemimpin- pemimpin zaman dan generasi-generasi yang teguh pendirian, ia mau mengusung air hingga lecet bahunya, ia rela menumbuk gandum sendiri untuk makan keluarganya, dan keutamaan-keutamaan lain yang amat banyak. Apakah Rasulullah orang yang miskin hingga hidup dengan cara seperti itu? Apa keadaanlah yang memaksa beliau seperti itu? Mari kita telaah bersama…
Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, mahar pernikahan dengan istri pertamanya saja yakni bunda Khodijah adalah 100 ekor unta merah, unta termahal saat itu. Ketika Islam mulai menaklukkan jazirah Arab, Rasulullah adalah pemilik seperlima ghanimah (harta rampasan perang). Beliau bisa menyalurkan kemanapun. Jadi, beliau sebenarnya adalah orang yang kaya. Kalau beliau mau bisa dipastikan seluruh keluarganya tidak akan pernah kekurangan. Hanya untuk baju, makanan, tempat tinggal yang lebih layak. Akan tetapi, beliau sangat berhati-hati dengan amanah itu, beliau menggunakan harta itu untuk kemaslahatan umat. Yang perlu kita garisbawahi, bukan semata-mata karena keperluan umat beliau meninggalkan urusan keluarganya. Beliau didik keluarganya dengan baik hingga mampu memahami arti kehidupan, arti kesuksesan, arti kebahagiaan. Sehingga tidak akan ada yang mengelak bahwa beliaulah orang yang paling sukses dicintai oleh keluarga, kerabat, sahabat maupun Allah SWT. Beliaulah orang nomor satu tersukses di dunia ini. Seorang pemimpin yang dekat dengan rakyat, yang mampu menakhlukkan jazirah arab dan daerah-daerah sekitarnya. Subhanallah. Apakah yang membuat beliau bertahan hidup seperti itu dengan akhir prestasi yang tak kan terlupakan sampai akhir zaman?
Dari gambaran-gambaran di atas, pertanyaan-pertanyaan di alenia awal akan terjawab. Sukses bukanlah kalau kita kaya, kesuksesan bukanlah kalau kita terhormat, kesuksesan bukanlah kalau kita menjadi orang tercantik atau tertampan, kesuksesan bukanlah kalau kita bisa memenuhi semua kebutuhan kita saja. Lebih jauh dari itu, kesuksesan adalah kebahagiaan hakiki. Dan kebahagiaan yang hakiki akan kita dapatkan kalau kita sukses secara pribadi, horizontal maupun vertikal. Sukses secara pribadi berarti kita mampu mencapai impian-impian kita. So, perlu ikhtiar agar target dan impian tercapai. Sukses secara horizontal berarti kita mampu berbagi, mampu memberi, mampu menawarkan pesona akhlak yang mulia ke sesama, sehingga hubungan dengan manusia juga harmonis. Maka Allah menyuruh kita untuk bekerja agar bisa bermanfaat dan berbuat banyak pada orang lain. Sukses secara vertikal berarti kedekatan yang sangat intim dengan Allah, kedekatan hati. Agar menjadi orang yang senantiasa sabar adan syukur. Kita milik Allah dan hanya kepadaNya lah kita akan kembali.
Apa gunanya jika kita kaya kalau tidak bisa memberikan kebahagiaan pada orang lain maupun keridloan Allah? Sama saja kan dengan orang miskin. Toh, orang kaya juga cuma mampu makan sekitar satu piring enggak satu truk, hanya mampu tidur satu tempat di satu waktu enggak di empat lima tempat sekaligus dalam satu waktu. Kenapa kita sangat susah berbagi? Barangkali keyakinan kita yang kurang pada Allah, takut jadi kekurangan kalau berbagi. Kita harus yakin bahwa Allahlah yang Maha Pemberi Rizqi, Dia yang menyempitkan dan melapangkan sesuai kehendak dan pengetahuanNya, bukan sesuai hawa nafsu kita. Allah Maha Mengetahui kebutuhan kita. Setiap doa yang kita mohon dengan tulus akan ada tiga kemungkinan, bisa jadi akan dikabulkan oleh Allah, bisa jadi diganti dengan yang lebih baik, bisa jadi pula ditunda pengabulannya sampai saat yang tepat, saat terbaik. Mari senantiasa bersabar dan bersyukur pada semua ketetapan Allah.
“… Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu…” (QS. Al Baqarah: 186)
“Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu terhadap diriKu…” (Hadist Qudsi)
“Seorang muslim yang berdoa, memohon kepada Allah, dia tidak memohon sesuatu yang dosa (dilarang) dan tidak dalam keadaan memutuskan hubungan silaturrahim, maka Allah akan memberikan salah satu dari tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama, doa itu dikabulkan, kemungkinan berikutnya adalah doa yang dipanjatkan, disimpan oleh Allah untuk hari kiyamat kelak. Kemungkinan terakhir adalah Allah akan menjauhkan orang tersebut dari keburukan” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan shohih al Jami’)
Kesimpulannya, parameter kesuksesan adalah kebahagiaan yang menyeluruh. Untuk mecapai kebahagiaan yang menyeluruh perlu keseimbangan antara pribadi, horizontal dan vertikal. Jika salah satu dari ketiganya lebih unggul maka tidak akan balance dan kebahagiaanpun tidak akan sempurna. So, yakinlah bahwa setiap manusia mampu untuk bahagia, nah seberapa besar kebahagiaan yang akan kita raih ya tergantung seberapa besar kemauan, semangat, ikhtiar, dan do’a kita. Kesuksesan ada di tangan kita, tidak peduli siapapun kita!
By: Indri Zulaihah (MTA Tangerang)
About the Author
11 Comments on “Persepsi Tanda Kesuksesan”
Write a Comments
Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!











smg dg kian dalamnya ilmu dan kian mantapnya iman di dada..berbuah pribadi yang berakhlak karimah…dik kapan bisa jumpa lagi di ahadpagi..ingat to waktu kita duduk di depan gedung..tiba tibu bu guru sma datang dan aku pamit pulang..semoga jadi bu dokter gigi yang amanah..
alhamdulillah……..
smoga qt bisa sukses
Syukon, dik atas tauziahnya
“So, yakinlah bahwa setiap manusia mampu untuk bahagia, nah seberapa besar kebahagiaan yang akan kita raih ya tergantung seberapa besar kemauan, semangat, ikhtiar, dan do’a kita. Kesuksesan ada di tangan kita, tidak peduli siapapun kita”
Mohon pertimbangkan ayat ini : وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
dan juga
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
{Hadiid :22}
dari dua ayat ini, apakah kita masih bisa mengatakan “seberapa besar kebahagiaan yang akan kita raih ya tergantung seberapa besar kemauan, semangat, ikhtiar dan doa” ?
Sesungguhnya hati ini ada di tangan Allah…dan apapun yang kita lakukan di muka bumi ini bukanlah atas kemampuan kita, namun Allah lah yang menggerakkan jasad kita…karena semua telah ia tuliskan dalam laukhul makhfudh sebelum Allah menciptakan kita… CMIIW
Assalamualaikum,, subhannallah artikel yg sangat indah sekali, artikel yg sangat bagus utk kemajuan kemandirian ki a masing2.
Sukses terus ya mba indri,, slm utk suaminy.
Setelah kita meluruskan niat, berdoa dalam berusaha, dan mengerahkan semua kemampuan untuk mencapai keberhasilan, yang perlu kita lakukan adalah selalu bersyukur. Bersyukur saat nanti kita mencapai keberhasilan, dan tetap bersyukur jika usaha kita gagal.
Saat orang bersyukur karena keberhasilannya, itu sudah sangat biasa terjadi, namun bila kita bersyukur saat kita mengalami kegagalan, itu yang luar biasa. Karena kebanyakan orang saat berhasil dia lupa siapa yang pada hakekatnya membuat dia berhasil, dan saat gagal dia mengumpat Allah habis-habisan.
Saat seseorang tetap bersyukur meski dalam kondisi terpuruk, maka dia tetep sukses dalam hidupnya.
@ alll : makasih untuk semangat, saran dan kritiknya… Salam insya Allah sudah tersampaikan…
@elang_ndeso : terima kasih atas masukannya… tp mhon perhatikan benar-benar isi artikelnya… kesuksesan yang saya maksudkan bukan yang fisik semata…. Seperti kata Abah Yudhi, jadi, kesuksesan = kebahagiaan tanpa batas materi
Tolong diingat juga QS. 13: 11: ” Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga ia mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
Hidup adalah pilihan bukan kesempatan.
Berkomentar ttg ayat yang saudara sampaikan, ayat itu memang benar, tapi maksudnya adalah ketetapan Allah berdasarkan sunnatullah (hukum sebab akibat). Seperti naik motor tidak hati2 bisa terjadi tabrakan, belajar bisa pintar, tidak belajar akan kesulitan dll atas ijin Allah tentunya, meski antara satu orang dengan orang lain hasilnya tidak bisa dilihat secara fisik, masih ada faktor pendukung yang lain seperti doa, kesungguhan, keyakinan, sugesti, juga jika Allah menghendaki untuk menunda, mengganti, atau mengabulkan doa kita dengan segera. Karena Allah Maha Tahu yang terbaik untuk kita. Bagi orang yang senantiasa syukur dan sabar dalam DALAM ARTI YANG MENDALAM pasti IA AKAN SUKSES.
Allah itu Maha adil tidak jauh dari sifat dhalim… kalau Allah sudah menetapkan di Lauh Mahfudz semua yang kita lakukan di bumi ini… bahkan sebelum kita diciptakan, termasuk kebahagiaan kita, berarti apakah surga dan neraka untuk kita juga sudah ditentukan untuk kita? Apakah Dia tetap hakim yang paling adil?
Menurut pembelajaran saya, takdir = ujung usaha.
Wallahu a’lam
bismillah semoga aku mengikuti jejak-jejak saudara2 semuanya mulai hari ini, bismillah
terimakasih zahra…salam buat suaminya juga
Assalaamualaikum, Mbak, artikelnya indah sekali hingga membuat saya menangis terisak, seolah menanyakan pada diri sendiri, sudah sampai dimanakah diri saya saat ini dengan definisi kesuksesan yang Mbak maksud. Alhamdulillah, artikel Mbak sangat membantu untuk penulisan buku saya, tentang arti sebuah kesuksesan yang mulia….terus berkarya ya Mbak…keep your spirit…Jazaakumullah….
Ainy
alhamdulillah q juga bisa mendengarkan radio MTA fm dari internet. online
karna mau mendengarkan dari radio, aku tidak punya radio…